Kemampuan Seorang Da'i Dalam Berdakwah
Kemampuan Berdakwah
Kemampuan berdakwah adalah keahlian seorang da'i untuk menarik perhatian dan mempengaruhi berbagai orang dalam satu kelompok yang memiliki perbedaan pemikiran, pemahaman, status sosial, dan budaya.
Seorang da'i dianggap berhasil jika ia mampu menyampaikan pesan yang mendalam kepada mereka meskipun mereka memiliki perbedaan gaya hidup, tradisi, dan latar belakang sosial.
Singkatnya, kemampuan berdakwah adalah senjata utama dan paling penting bagi seorang da'i. Oleh karena itu, kemampuan ini bisa menjadi kekuatan pribadi dan tingkat kearifan atau kesucian iman yang diberikan oleh Allah dan ini sangat menentukan posisi da'i sebagai pemimpin dan penggerak masyarakat. Dengan kata lain, tanpa kemampuan berdakwah, seseorang tidak layak disebut sebagai da'i dan dakwahnya tidak akan berpengaruh.
Perbedaan Kemampuan Berdakwah
Seperti halnya manusia pada umumnya, setiap da'i memiliki kapasitas dan pengaruh yang berbeda-beda. Daya tarik dan pengaruh terhadap pemikiran serta simpati orang lain juga berbeda antara satu da'i dengan yang lain. Namun, penting untuk dicatat bahwa tanpa kemampuan untuk mempengaruhi pemikiran dan memenangkan simpati target dakwah, seorang da'i tidak akan dianggap sukses dalam dunia dakwah.
Jika seorang da'i tidak memiliki kemampuan berdakwah, bukan hanya dakwahnya yang akan gagal dalam menciptakan ide dan gagasan baru, tetapi juga akan memberikan kesan negatif terhadap Islam. Oleh karena itu, sering kita temukan orang yang dianggap sebagai da'i tetapi kurang memberikan kontribusi positif untuk dakwah, malah terkadang merusak daripada membangun, sehingga keberadaan mereka menjadi sumber kekhawatiran bagi orang lain dan menimbulkan antipati.
Lalu, siapakah yang bisa dianggap sebagai da'i sejati?
Dalam sebuah hadis yang disampaikan oleh Abu Musa Al-Asy'ari, Nabi saw. menjelaskan kriteria seorang da'i yang diidamkan dalam Islam. Beliau bersabda:
"Petunjuk dan ilmu yang saya bawa dari Allah bagaikan hujan yang jatuh ke bumi. Ada tanah yang baik yang menyerap dan menahan air, sehingga banyak rumput dan pepohonan yang tumbuh. Ada pula yang menahan air sedemikian rupa sehingga menjadi danau atau sungai yang bisa digunakan untuk minum atau irigasi. Namun ada juga yang seperti cerobong, tidak menahan air sama sekali, sehingga tidak berguna sebagai waduk ataupun tanah subur. Begitulah kira-kira orang yang menerima dan mendalami Din (petunjuk) dari Allah, di antaranya ada yang memperoleh manfaat bahkan mengajarkan ilmunya kepada orang lain, tapi ada juga yang diberikan ilmu oleh Allah sehingga masuk telinga kiri keluar kembali melalui telinga kanan tanpa bekas." (HR. Bukhari dan Muslim)
Kemampuan dan Keberhasilan Dakwah
Keberhasilan misi dakwah sangat terkait dengan kemampuan mengendalikan situasi dakwah itu sendiri. Jika para da'i memiliki kemampuan memikat pemikiran dan simpati banyak orang, sangat mungkin mereka akan memperoleh hasil yang memuaskan. Sebaliknya, jika para da'i tidak memiliki daya tarik dan kurang mampu mengendalikan situasi dakwah, mereka tidak akan mencapai tujuannya sehingga akan digantikan oleh model dakwah lain, seperti dinyatakan oleh firman Allah swt:
"Dan kamu tidak akan bisa mengubah Sunnatullah." (QS. Faatir: 43)
Dan dalam firman-Nya yang lain:
"Jika kalian berpaling, niscaya Allah akan
menggantikan dengan umat lain yang tidak sama dengan kalian kualitasnya."
(QS. Muhammad: 38)
Mengendalikan Situasi Luar dan Dalam
a. Mengendalikan Situasi Luar
Mengendalikan situasi luar adalah melibatkan orang-orang (kelompok) yang berada di luar jangkauan tertentu dari dakwah atau belum terikat dengan peraturan-peraturan Islam.
b. Mengendalikan Situasi Dalam
Mengendalikan situasi dalam adalah memberikan arahan kepada orang-orang yang telah terorganisasi dan sudah akrab dengan aktivitas keagamaan serta dipersiapkan sebagai calon da'i yang akan menjalankan tugas-tugas dakwah.
Kedua situasi ini saling berkaitan dan melengkapi satu sama lain. Keduanya membutuhkan kemampuan yang optimal dalam pengendalian. Sehingga, bisa disimpulkan bahwa pengelolaan situasi luar adalah kerja analisis sistematis dan terarah, sementara upaya di situasi dalam bisa diartikan sebagai kerja mencetak, membuat, atau memproduksi dan tentu saja kedua bidang ini memerlukan persyaratan khusus untuk mencapai maksud dan tujuannya.
(Disarikan dari buku "Penguasaan Da'i dalam
Berdakwah" karya Dr. Fathi Yakan)

Post a Comment